Selasa, 23 April 2013

Be The Last For Me Part 2


Yuhu....................
akhinyo Part 2 selesai juga walapun sampe detik ini bingung banget mau dibawa kemana nich cerita...
tp yach mau gimana lagi,,,,,,,
cuma ini yang bisa penulis persembahkan.
dari pada makin nggak karuan chuz,,, silahkan dibaca,
HAPpy ReaDiNg AlL

                                                                  
Be The Last For Me Part 2
Pagi yang sangat cerah untuk memulai aktifitas setelah subuh sebelumnya hujan mulai mengguyur lingkungan sekitarku. Setelah membantu Mama menyiapkan menu sarapan pagi. Aku mulai bersiap untuk pergi ke kampus, walaupun hari ini tidak ada jadwal kuliah pagi. Aku berangkat lebih awal karena ingin mencari beberapa literatur untuk tugas mata kuliah Sosiologi di Perpustakaan kampus. Tiba-tiba hp-ku berbunyi tanda panggilan masuk tak lain dan tak bukan adalah Arka
“Hallo, Ada pa Ka?”. Tanyaku pada suara di seberang.
“Assalamu’alaikum kali, udah buruan keluar gue da jemput di tempat biasa” jawab Arka
“wait,,wait,,, bukannya belum ada kesepakatan ya kalo hari ini gue dijemput?” tanyaku pada arka karena memang tidak ada kesepakatan.
“udah dech, nggak usah bawel buruan, matahari udah terik nich panas” jawab Arka sehingga memaksa langkahku untuk segera pergi menginggalkan rumah.
“Ma, Naura pergi dulu yach Assalamu’alaikum” teriak ku pada Mama sambil tak lupa untuk cium tangan.
Aku bergegas menuju tempat biasa Arka menjemputku, karena tak ingin Arka lebih lama menunggu. Membuat Arka menunggu dapat menimbulkan efek domino, selain ngomel-ngomel sepanjang perjalanan juga dapet bonus harus nraktir makan siang, bener-bener paket lengkap dech. Tak lama kemudian aku sudah menemukan sosok Arka yang sudah siap di atas motor Sportinya.
“Tumben agak cepet”. Tanya Arka setelah aku berada lebih dekat dengannya.
“iyalah, orang dari tadi gue dah siap-siapmau berangkat”. Jawabku sambil memasang helm dan bersiap untuk naik ke motornya.
“bukannya hari ini loe nggak ada kuliah pagi ya?”. Tanya Arka penasaran.
“memang sih, tapi gue rencana mau ke perpus cari literature buat tugas”. Jawabku lagi.
“trus kenapa nggak bilang kalo ma berangkat pagi?”. Tanya Arka lagi.
“aduh Ka, please dech udah jalan aja nggak usah dibahas”. Jawabku untuk mengakhiri percakapan ini.
Tanpa banyak bicara Arka segera melajukan motor kesayangannya itu menuju ke kampus. Ditengah perjalanan aku mendengar Arka memanggilku. Namun tak ku hiraukan karena sedang asik dengan pikiranku sendiri tentang Arka, tentang kelanjutan studi-ku tentang kehidupanku nantinya. Perlahan Arka mengurangi kecepatan laju motornya dan mulai menepi di pinggir jalan.

***
“hei Ra, loe kenapa?”. Tanya Arka sambil menyentuh bahuku dan membuatku tersadar dari lamunan.
“eh, Ka ada apa?”. Jawabku setengah terkaget.
“Tuch kan loe aja nggak tau apa yang gue bilang tadi. Loe kenapa?”. Tanya Arka terlihat mencemaskanku.
“oh, nggak apa-apa kok Ka”. Jawabku ragu.
“loe yakin kalo loe nggak kenapa-kenapa, kita kan sahabat Ra jadi loe bisa cerita apa aja ke Gue”. Jawab Arka masih terlihat ragu akan jawabanku.
“iya gue nggak kenapa-kenapa kok udah yuk jalan lagi”. Jawabku dan Arka pun mulai melajukan kembali motornya.
“Ra, entah kenapa gue ngerasa kalo kamu sedikit berubah”. Tanya Arka kembali sambil tetap melajukan motornya.
“ah itu perasaan loe aja Ka, gue sich biasa aja”. Jawabku pada Arka.
“semoga saja ya Ra, tapi gue ngerasa loe jauh lebih diem sekarang walaupun terkadang masih suka bikin heboh, kesannya gimana gitu, semisal gue ada salah ma loe tanpa gue tau maafin gue ya”. Kata Arka panjang lebar mengingatkanku akan sikapku akhir-akhir ini.
“iya, loe tenang aja Ka, gue baik-baik aja kok pecaya dech, loe sahabat gue dan kita selamanya akan tetap jadi sahabat”. Jawabku meyakinkan Arka.
“beneran lho yach”. Kata Arka dengan keraguan yang masih menggantung.
“iyach”. Jawabku dengan menyunggingkan senyum berusaha menghapus keraguan dalam benak Arka.
“kamu itu dekat denganku tapi aku ngrasa kamu jauh sekali Ra. Semoga saja kamu bener ini hanya perasaanku saja”. Batin Arka.
“kamu memang pengertian banget Ka, sulit rasanya berbohong didepanmu” batinku.
Hening, kami menikmati sisa perjalanan sampai tiba di kampus. Tak satupun dari kami berniat untuk memulai kembali perbincangan sampai tujuan. Arka mengantarkan aku sampai di depan perpustakaan kampus. Sesampainya di perpus aku segera turun dari motor Arka.
“Ka, thanks ya da nganter gue, habis ini loe mau kemana”. Tanyaku pada Arka.
“rencananya sich mau ikut loe masuk ke perpus itupun kalo elo nggak keberatan” jawab Arka.
“ya nggak sich, asal loe nggak gangguin gue aja, tapi apa loe gak sebaiknya PDKT ma Dina aja ya?”. Tanyaku pada Arka sekaligus mengingatkan akan misinya mencari cinta sejati dan pelabuhan terakhirnya.
“nggak ah, gue masih mau nemenin loe yang kelihatannya galau gitu”. Jawabnya dengan menarik sedikit sudut bibirnya.
“oh makasih banget, galau ... nggak dech kayaknya” jawabku seraya menarik tangannya untuk segera menuju pintu perpus.
Karena saking asyiknya kita ngobrol tanpa sengaja aku menabrak seseorang dan membuat buku-buku yang dipegang orang tersebut jatuh berserakan.
“eh, maaf ya mas saya tadi jalannya tidak melihat”. Kataku berusaha minta maaf pada orang tersebut sambil membantu mengumpulkan bukunya yang berserakan tak lupa pula Arka ikut membantu.
“eh, iya nggak pa-pa kok mbak saya juga salah”. Jawab orang itu sambil menatap gue.
“lho, Naura kan?”. Kata orang itu menyebutkan namaku. Karena orang itu tau namaku aku bersaha mengingat-ingat siapa dia dan...
“Nathan”. Jawabku setelah mengetahui identitas orang yang aku tabrak tadi
“iya, wah sepertinya dunia ini sempit ya, senang bertemu denganmu lagi”. Jawab Nathan sambil menjabat tanganku dan ku balas jabatan tangannya.
“iya senang juga bertemu denganmu”. Kataku sejenak melupakan kehadiran Arka sampai kemudian Arka menyenggolku.
“oiya Than, kenalin ini temen gue Arka”kataku pada Nathan
“Arka, ini Nathan” kataku pada Arka memperkenalkan. Karena teringat akan tujuanku datang ke perpus akupun segera berpamitan pada Nathan.
“Than gue masuk dulu yach”. Kataku berpamitan
“eh iya, boleh tau nomer Hp-nya nggak?”. Tanya Nathan sebelum aku pergi.
“oh boleh kok ni, 0813xxxxxxxx”. Jawabku memberitahukan no ponsel ku.
“ok thanks ya Ra,nanti disambung lagi”. Jawab Nathan.
“oke!”jawabku sambil berlalu mulai memasuki perpustakaan.
***
“oh, jadi itu yang membuat loe terlihat galau akhir-akhir ini. Perasaan gue nggak pernah liat tuch cowok dech”. Kata Arka yang sedari tadi diam akhirnya bicara.
“yeh, sok tau loe.siapa juga yang galau”. Jawabku menggoda Arka.
“siapa sich tuch anak?”. Tanya Arka dengan rasa penasaran yang semakin menggunung.
“kan udah gue kenalin tadi, dia itu Nathan”. Jawabku pada Arka tetap dengan senyum tersungging.
“Ayolah Ra, gu serius nich masak yach sama sahabat sendiri nggak cerita”. Kata Arka yang mulai kehilangan kesabaran.
“iya bener dia itu Nathan, dan sayangnya info yang gue punya Cuma itu karena gue juga baru kenal kemarin itu pun dalam bus waktu pulang”. Jawabku berusaha menjelaskan dari pada terus diburu sama tuch anak.
“what baru kenal kemarin, udah dikasih nomer Hp?”. Tanya Arka tak percaya.
“iya, ada yang salah?”. Tanyaku berusaha terlihat acuh.
“Tau gitu kemarin gue anter loe pulang”gumam Arka.
“Apa?”. Tanyaku karena tak mendengar perkataan Arka.
“Nggak. Buruan yuk cari literaturnya gue bantu”. Jawab Arka berusaha mengalihkan topic pembicaraan.
Kemudian kami berdua sibuk mencari-cari buku yang kubutuhkan untuk melengkapi materi. Arka sahabat yang siaga, juga tak segan-segan membantuku mencarikan buku bahkan sesekali membantu mengerjakan tugasku jika aku sudah tidak mampu lagi untuk mengerjakannya. Mengingat banyaknya kegiatan mahasiswa yang ku ikuti.
***
Selesai menemukan buku-buku yang kubutuhkan dan memasukkan kedalam tas ku. Aku dan Arka memutuskan untuk menuju taman kampus tempat nongkrong kita berdua. Disana kita biasa berbincang-bincang mulai dari membahas dosen sampai dengan membahas urusan pribadi kita, termasuk pembahasan tentang GeBeTan baru Arka.
“Eh, ngomong-ngomong gimana soal progress hubungan loe ma Ardina itu?”. Tanyaku memulai percakapan ini.
“oh, itu biasa aja sich”. Jawab Arka asal.
“lho bukannya kemarin loe udah nembak dia ya?”. Tanyaku lagi.
“iya sich, tapi Ra gue jadi ragu dech”. Jawab Arka.
“lho kok??? Bukannya kemarin-kemarin loe semangat banget yach”. Tanyaku mulai penasaran.
“iya juga sich, gue juga nggak tau kenapa bisa begini”. Jawab Arka.
“alah, palingan juga alibi karena loe udah ditolak”. Jawabku terus saja mengejar jawaban Arka.
“gile bener, gue udah diterima kali ma Ardina. Lagian nggak ada dalam kamus gue ditolak ma cewek secara ganteng gue udah tingkat nasional”. Jawab Arka dengan tingkat ke-PD-an 100%.
“ye PD gile,What udah di terima wah ayo traktir”. Kataku sambil tersenyum dan mencoa menarik Arka menuju kantin.
Namun tiba-tiba Ponselku berbunyi tanda panggilan masuk dari nomer tak dikenal. Dengan agak ragu Akhirnya aku angkat telponnya dan menyuruh Arka untuk diam sebentar.
“hallo?”. Kataku
“Assalamu’alaikum, bener ini nomernya Naura”. Jawab orang diseberang
“wa’alaikumussalam, iya ini dengan Naura , maaf ini siapa?” tanyaku pada suara diseberang.
“Ra, ini Nathan Cuma mau Mastiin aja bener gak ini nomer loe, ini nomer gue save ya”jawab Nathan.
“oh, Nathan iya”. Jawabku. Mendengar nama Nathan ku sebut sekilas kulirik Arka diam saja dengan raut muka tak dapat dibaca.
“yaudah gitu aja, Assalam’alaiku” Kata Nathan mengakhiri.
“wa’alaikumussalam”. Jawabku sambil menutup telpon.
Melihat wajah Arka yang penuh Tanya, sebelum dia memberondongku dengan pertanyaannya maka aku berniat mengatakannya terlebih dahulu.
“Nathan”. Kataku menjawab tentang identitas peneleponku tadi dengan singkat dan lugas.
***
to be continued

Tidak ada komentar: