Yuhu....................
akhinyo Part 2 selesai juga walapun sampe detik ini bingung banget mau dibawa kemana nich cerita...
tp yach mau gimana lagi,,,,,,,
cuma ini yang bisa penulis persembahkan.
akhinyo Part 2 selesai juga walapun sampe detik ini bingung banget mau dibawa kemana nich cerita...
tp yach mau gimana lagi,,,,,,,
cuma ini yang bisa penulis persembahkan.
dari pada makin nggak karuan chuz,,, silahkan dibaca,
HAPpy ReaDiNg AlL
HAPpy ReaDiNg AlL
Be The Last For Me Part 2
Pagi
yang sangat cerah untuk memulai aktifitas setelah subuh sebelumnya hujan mulai
mengguyur lingkungan sekitarku. Setelah membantu Mama menyiapkan menu sarapan
pagi. Aku mulai bersiap untuk pergi ke kampus, walaupun hari ini tidak ada
jadwal kuliah pagi. Aku berangkat lebih awal karena ingin mencari beberapa literatur
untuk tugas mata kuliah Sosiologi di Perpustakaan kampus. Tiba-tiba hp-ku
berbunyi tanda panggilan masuk tak lain dan tak bukan adalah Arka
“Hallo,
Ada pa Ka?”. Tanyaku pada
suara di seberang.
“Assalamu’alaikum kali, udah buruan keluar gue da
jemput di tempat biasa”
jawab Arka
“wait,,wait,,,
bukannya belum ada kesepakatan ya kalo hari ini gue dijemput?” tanyaku pada arka karena memang tidak
ada kesepakatan.
“udah
dech, nggak usah bawel buruan, matahari udah terik nich panas” jawab Arka sehingga memaksa langkahku
untuk segera pergi menginggalkan rumah.
“Ma,
Naura pergi dulu yach Assalamu’alaikum” teriak ku pada Mama sambil tak lupa
untuk cium tangan.
Aku
bergegas menuju tempat biasa Arka menjemputku, karena tak ingin Arka lebih lama
menunggu. Membuat Arka menunggu dapat menimbulkan efek domino, selain
ngomel-ngomel sepanjang perjalanan juga dapet bonus harus nraktir makan siang,
bener-bener paket lengkap dech. Tak lama kemudian aku sudah menemukan sosok
Arka yang sudah siap di atas motor Sportinya.
“Tumben
agak cepet”. Tanya Arka
setelah aku berada lebih dekat dengannya.
“iyalah,
orang dari tadi gue dah siap-siapmau berangkat”.
Jawabku sambil memasang helm dan bersiap untuk naik ke motornya.
“bukannya
hari ini loe nggak ada kuliah pagi ya?”.
Tanya Arka penasaran.
“memang
sih, tapi gue rencana mau ke perpus cari literature buat tugas”. Jawabku lagi.
“trus
kenapa nggak bilang kalo ma berangkat pagi?”.
Tanya Arka lagi.
“aduh
Ka, please dech udah jalan aja nggak usah dibahas”.
Jawabku untuk mengakhiri percakapan ini.
Tanpa
banyak bicara Arka segera melajukan motor kesayangannya itu menuju ke kampus. Ditengah
perjalanan aku mendengar Arka memanggilku. Namun tak ku hiraukan karena sedang
asik dengan pikiranku sendiri tentang Arka, tentang kelanjutan studi-ku tentang
kehidupanku nantinya. Perlahan Arka mengurangi kecepatan laju motornya dan
mulai menepi di pinggir jalan.
***
“hei
Ra, loe kenapa?”. Tanya Arka
sambil menyentuh bahuku dan membuatku tersadar dari lamunan.
“eh,
Ka ada apa?”. Jawabku setengah
terkaget.
“Tuch
kan loe aja nggak tau apa yang gue bilang tadi. Loe kenapa?”. Tanya Arka terlihat mencemaskanku.
“oh,
nggak apa-apa kok Ka”.
Jawabku ragu.
“loe
yakin kalo loe nggak kenapa-kenapa, kita kan sahabat Ra jadi loe bisa cerita
apa aja ke Gue”. Jawab Arka masih
terlihat ragu akan jawabanku.
“iya
gue nggak kenapa-kenapa kok udah yuk jalan lagi”.
Jawabku dan Arka pun mulai melajukan kembali motornya.
“Ra,
entah kenapa gue ngerasa kalo kamu sedikit berubah”. Tanya Arka kembali sambil tetap
melajukan motornya.
“ah
itu perasaan loe aja Ka, gue sich biasa aja”.
Jawabku pada Arka.
“semoga
saja ya Ra, tapi gue ngerasa loe jauh lebih diem sekarang walaupun terkadang
masih suka bikin heboh, kesannya gimana gitu, semisal gue ada salah ma loe
tanpa gue tau maafin gue ya”.
Kata Arka panjang lebar mengingatkanku akan sikapku akhir-akhir ini.
“iya,
loe tenang aja Ka, gue baik-baik aja kok pecaya dech, loe sahabat gue dan kita
selamanya akan tetap jadi sahabat”.
Jawabku meyakinkan Arka.
“beneran
lho yach”. Kata Arka dengan
keraguan yang masih menggantung.
“iyach”. Jawabku dengan menyunggingkan senyum
berusaha menghapus keraguan dalam benak Arka.
“kamu
itu dekat denganku tapi aku ngrasa kamu jauh sekali Ra. Semoga saja kamu bener
ini hanya perasaanku saja”.
Batin Arka.
“kamu
memang pengertian banget Ka, sulit rasanya berbohong didepanmu” batinku.
Hening,
kami menikmati sisa perjalanan sampai tiba di kampus. Tak satupun dari kami
berniat untuk memulai kembali perbincangan sampai tujuan. Arka mengantarkan aku
sampai di depan perpustakaan kampus. Sesampainya di perpus aku segera turun dari
motor Arka.
“Ka,
thanks ya da nganter gue, habis ini loe mau kemana”. Tanyaku pada Arka.
“rencananya
sich mau ikut loe masuk ke perpus itupun kalo elo nggak keberatan” jawab Arka.
“ya
nggak sich, asal loe nggak gangguin gue aja, tapi apa loe gak sebaiknya PDKT ma
Dina aja ya?”. Tanyaku pada
Arka sekaligus mengingatkan akan misinya mencari cinta sejati dan pelabuhan
terakhirnya.
“nggak
ah, gue masih mau nemenin loe yang kelihatannya galau gitu”. Jawabnya dengan menarik sedikit sudut
bibirnya.
“oh
makasih banget, galau ... nggak dech kayaknya”
jawabku seraya menarik tangannya untuk segera menuju pintu perpus.
Karena
saking asyiknya kita ngobrol tanpa sengaja aku menabrak seseorang dan membuat
buku-buku yang dipegang orang tersebut jatuh berserakan.
“eh,
maaf ya mas saya tadi jalannya tidak melihat”.
Kataku berusaha minta maaf pada orang tersebut sambil membantu mengumpulkan
bukunya yang berserakan tak lupa pula Arka ikut membantu.
“eh,
iya nggak pa-pa kok mbak saya juga salah”.
Jawab orang itu sambil menatap gue.
“lho,
Naura kan?”. Kata orang itu
menyebutkan namaku. Karena orang itu tau namaku aku bersaha mengingat-ingat
siapa dia dan...
“Nathan”. Jawabku setelah mengetahui identitas
orang yang aku tabrak tadi
“iya,
wah sepertinya dunia ini sempit ya, senang bertemu denganmu lagi”. Jawab Nathan sambil menjabat tanganku dan
ku balas jabatan tangannya.
“iya
senang juga bertemu denganmu”.
Kataku sejenak melupakan kehadiran Arka sampai kemudian Arka menyenggolku.
“oiya
Than, kenalin ini temen gue Arka”kataku
pada Nathan
“Arka,
ini Nathan” kataku pada Arka
memperkenalkan. Karena teringat akan tujuanku datang ke perpus akupun segera
berpamitan pada Nathan.
“Than
gue masuk dulu yach”.
Kataku berpamitan
“eh
iya, boleh tau nomer Hp-nya nggak?”.
Tanya Nathan sebelum aku pergi.
“oh
boleh kok ni, 0813xxxxxxxx”.
Jawabku memberitahukan no ponsel ku.
“ok
thanks ya Ra,nanti disambung lagi”.
Jawab Nathan.
“oke!”jawabku sambil berlalu mulai memasuki
perpustakaan.
***
“oh,
jadi itu yang membuat loe terlihat galau akhir-akhir ini. Perasaan gue nggak
pernah liat tuch cowok dech”.
Kata Arka yang sedari tadi diam akhirnya bicara.
“yeh,
sok tau loe.siapa juga yang galau”.
Jawabku menggoda Arka.
“siapa
sich tuch anak?”. Tanya Arka
dengan rasa penasaran yang semakin menggunung.
“kan
udah gue kenalin tadi, dia itu Nathan”.
Jawabku pada Arka tetap dengan senyum tersungging.
“Ayolah
Ra, gu serius nich masak yach sama sahabat sendiri nggak cerita”. Kata Arka yang mulai kehilangan
kesabaran.
“iya
bener dia itu Nathan, dan sayangnya info yang gue punya Cuma itu karena gue
juga baru kenal kemarin itu pun dalam bus waktu pulang”. Jawabku berusaha menjelaskan dari pada
terus diburu sama tuch anak.
“what
baru kenal kemarin, udah dikasih nomer Hp?”.
Tanya Arka tak percaya.
“iya,
ada yang salah?”. Tanyaku berusaha
terlihat acuh.
“Tau
gitu kemarin gue anter loe pulang”gumam
Arka.
“Apa?”. Tanyaku karena tak mendengar perkataan
Arka.
“Nggak.
Buruan yuk cari literaturnya gue bantu”.
Jawab Arka berusaha mengalihkan topic pembicaraan.
Kemudian
kami berdua sibuk mencari-cari buku yang kubutuhkan untuk melengkapi materi. Arka
sahabat yang siaga, juga tak segan-segan membantuku mencarikan buku bahkan
sesekali membantu mengerjakan tugasku jika aku sudah tidak mampu lagi untuk
mengerjakannya. Mengingat banyaknya kegiatan mahasiswa yang ku ikuti.
***
Selesai
menemukan buku-buku yang kubutuhkan dan memasukkan kedalam tas ku. Aku dan Arka
memutuskan untuk menuju taman kampus tempat nongkrong kita berdua. Disana kita
biasa berbincang-bincang mulai dari membahas dosen sampai dengan membahas
urusan pribadi kita, termasuk pembahasan tentang GeBeTan baru Arka.
“Eh,
ngomong-ngomong gimana soal progress hubungan loe ma Ardina itu?”. Tanyaku memulai percakapan ini.
“oh,
itu biasa aja sich”. Jawab Arka asal.
“lho
bukannya kemarin loe udah nembak dia ya?”.
Tanyaku lagi.
“iya
sich, tapi Ra gue jadi ragu dech”.
Jawab Arka.
“lho
kok??? Bukannya kemarin-kemarin loe semangat banget yach”. Tanyaku mulai penasaran.
“iya
juga sich, gue juga nggak tau kenapa bisa begini”.
Jawab Arka.
“alah,
palingan juga alibi karena loe udah ditolak”.
Jawabku terus saja mengejar jawaban Arka.
“gile
bener, gue udah diterima kali ma Ardina. Lagian nggak ada dalam kamus gue ditolak
ma cewek secara ganteng gue udah tingkat nasional”.
Jawab Arka dengan tingkat ke-PD-an 100%.
“ye
PD gile,What udah di terima wah ayo traktir”.
Kataku sambil tersenyum dan mencoa menarik Arka menuju kantin.
Namun
tiba-tiba Ponselku berbunyi tanda panggilan masuk dari nomer tak dikenal. Dengan
agak ragu Akhirnya aku angkat telponnya dan menyuruh Arka untuk diam sebentar.
“hallo?”. Kataku
“Assalamu’alaikum, bener ini nomernya Naura”. Jawab orang diseberang
“wa’alaikumussalam, iya ini dengan Naura ,
maaf ini siapa?” tanyaku pada
suara diseberang.
“Ra,
ini Nathan Cuma mau Mastiin aja bener gak ini nomer loe, ini nomer gue save ya”jawab Nathan.
“oh,
Nathan iya”. Jawabku. Mendengar
nama Nathan ku sebut sekilas kulirik Arka diam saja dengan raut muka tak dapat
dibaca.
“yaudah
gitu aja, Assalam’alaiku” Kata Nathan mengakhiri.
“wa’alaikumussalam”. Jawabku sambil menutup telpon.
Melihat
wajah Arka yang penuh Tanya, sebelum dia memberondongku dengan pertanyaannya
maka aku berniat mengatakannya terlebih dahulu.
“Nathan”. Kataku menjawab tentang identitas
peneleponku tadi dengan singkat dan lugas.
***
to be continued
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar