Selasa, 07 Mei 2013

Be The Last For Me Part 4


releas.....
releas again.....
alhamdulillah...

Hari Minggu saat yang senantiasa ku tunggu-tunggu karena hanya pada hari ini diriku bisa molor sampai siang, tentu sebelumnya harus sudah sholat dulu. tapi belum juga kembali memasuki alam mimpi kamarku ada yang mengetuk. karena tak ada respon dariku, dari luar sayup terdengar mama memanggilku.
“Ra, bangun... buka pintunya sayang” kata mama karena aku tak juga merespon mama terus menggedor pintu.
“Ra ayo dong bangun, tolong anterin mama ke pasar sebentar” tak menyerah mama terus saja mengetuk pintu sampai akhirnya aku benar-benar terganggu dan memutuskan untuk membuka pintu.
“aduh ma,,, ada apa sich??? masih ngantuk nich lagian juga ini kan hari minggu”kataku malas-malasan sambil cemberut.
“iyach sayang, mama tahu.. tapi mama minta tolong anterin ke pasar bentar aja” kata mamaku.
“males banget Ma, tapi bolehlah tunggu sebentar ya siap-siap dulu” kataku sambil menutup pintu mau siap-siap.
“Ma,, ayo Naura Udah siap nich,, rencana mau di anter pake motor apa mobil Ma” Teriakku pada Mama.
“iya, pake mobil aja sayang dari pada ribet nanti bawanya” kata mamaku sambil berlari kearahku
setelah mendapat jawaban dari mama aku langsung berjalan menuju mobil untuk sebelumnya menyalakan mesin terlebih dahulu. walaupun pada dasarnya di rumahku ada mobil ataupun motor tapi aku lebih suka naik kendaraan umum, karena dengan menggunakan kendaraan umu selain efisien, aku juga ngerasa nggak harus nyetir sendiri itung-itung hemat energy. itulah mengapa aku tidak pernah membawa kendaraan pribadi setiap kekampus kecuali kepaksa sich.
***
sesampainya di pasar, yang awalnya aku hanya berniat untuk menunggu di tempat parkiran mobil. akhirnya memutuskan untuk ikut turun dan masuk ke pasar karena kasian kalau Mama harus bawa belanjaan banyak sekali.
Di tengah perjalanan mencari-cari belanjaan yang ingin dibeli oleh Mama. aku mendengar ada suara memanggilku. setelah ku lihat sumber suara ternyata dia adalah Nathan. sebuah kebetulan yang berulang kembali.
“eh Nathan kok disini?” tanyaku basa-basi
“iya, ini Mama minta anter. ternyata beneran kamu ya, tadinya gue piker salah lihat”kata Nathan masih tidak percaya akan keberadaanku.
“iya sama ni juga nganter Mama” kataku sambil menunjuk ke arah Mama.
“pagi Tante”sapa Nathan pada Mamaku.
“pagi”kata Mamaku.
“eh iya Ra, kenalin ini mamaku” kata Nathan sambil menunjuk arah mamanya.
“Naura Tante” kataku menjabat tangan mama Nathan mengenalkan diri.
“wah, temenmu cantik juga ya Than”kata mama Nathan melihatku.
“jelas dong Ma,” jawab Nathan.
“ah, nggak kok tante bisa aja, udah dulu yacht ante nich mau ngelanjutin belanjannya” kataku sambil tersenyum simpul.
“oh iya, sampai ketemu lagi”kata mama Nathan.
***
acara ke pasar udah selesai, aku kembali masuk kedalam kamarku berniat melanjutkan tidurku kembali. lagi-lagi sebelum aku kembali memasuki alam mimpi terdengar bunyi hanphoneu yang sangat mengganngu. dalam hati aku menyesal kenapa tadi tidak ku matikan saja ni HP. ku lihat layar Hp ku ternyata panggilan dari Arka. huft menggangu sekali
“iya kenapa??” kataku jengkel.
“ aduh kemana aja non di telpon dari tadi juga”
“sori tadi nganter nyokap ke pasar lupa Hp nggak di bawa, emank kenapa??”
“kebiasaan,,, oh iya lupa mau curhat nich??”
“ada apa lagi” tanyaku
“gimana menurut loe kalo gue putus??” Tanya Arka
“HAH PUTUS,,,,, LAGI”teriakku entah mungkin saat itu Arka sedang menjauhkan Hp dari telinganya
“iya, nggak usah teriak kenapa??” kata Arka.
“iya sori, maklum lagi syok, secara baru juga 2 hari loe jadian, bukannya loe ngerasa cocok banget yach sama dia??”
“iya sich awalnya” kata Arka
“Ka sebenernya kamu cari kayak gimana sich” tanyaku dengan nada putus asa.
“nggak muluk sich, aku pengen dapet cewek yang cantik, pinter, baik” jawab Arka
“wah paket komplit dong” kataku
“ yach like this lah” kata ARka
“hey, inget tak ada yang sempurna di dunia ini, setiap manusia itu mempunyai kelebihan lengkap dengan kekurangannya masing-masing, jadi nggak ada sich pasangan seperti itu, kecuali kalo loe mampu menjadi pelengka dengan menutupi kekurangan kalian dan mampu mengeksplor kelebihan kalian” kataku panjang lebar.
“iya , tapi Dina itu posesif banget tau”
“lho, bukannya itu bagus yach, berarti sense of belongingnya dah dapet”kataku
“iya, tapi yang nggak bisa gue tolerir itu dia jealous ma elo, padahal loe kan sahabat gue dari SMA”jelas Arka.
“oh jadi masalahnya karena Gue, tapi ada benernya juga Dina Ka, perempuan manapun pasti akan merasakan hal yang sama. dan nggak rela kalo cowoknya deket sama cewek lain apalagi bukan saudaranya”jelasku
“iya tapi please dech,masak ama loe juga jealous??” kata Arka
“menurutku sich wajar itu, toch gue nggak ada hubungan darah juga ma elo”kataku
“nggak, ,, nggak wajar” Arka tetep ngotot.
“gini dech Ka,, mending kita jaga jarak aja dulu, yach tetep berteman sich tapi intensitasnya sedikit dikurangi”kataku pada Arka berusaha ngasih solusi
“nggak ah, solusi apaan itu, mnding gue putus aja”kata Arka
“Ka, denger dulu,, bukankah cepat ato lambat pasti ini bakal terjadi, toch selamanya kita nggak bakal bisa seperti ini, kelak loe akan menemukan pendamping hidup loe, begitupun gue juga bakal menemukan pendamping hidup jadi kita nggak mungkin begini terus selamanya tanpamenyakiti pasangan kita masing-masing nantinya”jelasku panjang lebar.
“jadi loe udah punya pasangan sekarang, trus minta kita saling menjauh”kata Arka
“ya nggak gitu Arka.,,,,”sebelum ku melanjutkan lebih jauh
“iya-iya gue ngerti, trus apa mau mu sekarang???” Tanya Arka
“ya kita berdua sedikit jaga jarak dikampus,tapi kalo dirumah loe tetep bisa telpon dan curhat sama gue” kataku pada Arka.
“oke kalau itu memang mau loe, inget ini loe yang minta jangan salahkan gue nantinya kalau misalnya kita bener-bener jauh,, berarti mulai besok persahabatan kita dibatasi nich?”Tanya Arka lagi
“iya, ini demi kebaikan kita berdua”kataku
“kebaikan elo kali” jawab Arka singkat. belum juga aku menjawab dia sudah mematikan sambungan telpon.
“berarti ini adalah terakhir kali aku berkomunikasi denganmu Arka”kataku dalam hati.
***

Kamis, 02 Mei 2013

Be The Last For Me Part 3


akhirnya bisa terbit juga ...
karena sejak kemarin2 terkendala karena sakit,,,,
oke All....
HappY ReAdiNg......

gambar.co

“gimana menurut loe???” Tanyaku sambil terus berjalan mendahului Arka.
“apanya??”Arka balik Tanya karena tak memahami pertanyaanku.
“yaelah, kemana aja pak dari tadi?? itu si Nathan, elo udah gue kenalinkan”. jelasku pada Arka.
“biasa aja, paling juga ganteng gue”jawab Arka kepercayaan diri tingkat dewa.
“ye, PD bener, gak ada kali yang bilang loe ganteng”kataku sambil menjitak kepala Arka. hhal yang sering aku lakukan kalo lagi kesel ma tuch anak.
“aih kata siapa non?? belum tau yach kalo selama ini banyak sekali cewek-cewek yang pada ngantri jadi pacar gue”jawab Arka tak mau kalah
“okelah, terserah asal loe seneng aja, hehehe. yaudah yang penting sekarang traktir udah jadian gitu” jawabku mengakhiri pembicaraan.
selanjutnya kita berdua jalan menuju kantin memesan menu favorit kita masing-masing sambil tetap bercanda gurau sebagaimana biasanya. bergabung dengan teman-teman yang lain walaupun kita berdua bersahabat tapi kita berdua tidak pernah mengekslusifkan diri. lebih terbuka dengan teman-teman yang lain kalo lagi kumpul.
topic pembicaraan kalau sedang berkumpul dengan teman-teman yang lain tidak jauh beda dengan biasanya. membahas seputar cewek-cewek popular bin centil bin manjanya nggak ketulungan tapi herannya lagi kok banyak cowok-cowok suka model cewek begitu. maklumlah aku terhitung gadis yang sedikit tomboy tapi tidak akut. hehehehe
“eh biasa aja kali cewek manja gitu”kataku sewot.
“cantik tau, justru itu yang bikin gemes manjanya ituloh. iya nggak friend”jawab dony sambil melihat teman satu persatu.
“manja kok malah gemes, dasar pemikiran yang terbalik”. kataku tak mau mengalah
“yah itu sih yang kebalik pemikiran elo, loe kan yang cewek….”lanjut Roy tidak berani meneruskan perkataannya karena melihatku sudah melotot.
“apa kok nggak dilanjutkan?”kataku ketus
“tomboy” jawab Roy dan Dony bersamaan diikuti oleh tawa teman-teman.
“padahal kalau dilihat-lihat kamu itu tidak kalah cantik loh Ra, mungkin perlu sedikit di make over aja”kata Dony kemudian.
“dari dulu kali kalo gue itu cantik, tapi gue nggak mau ah make over segala karena menurut gue cantik itu dari sini”kataku sambil menunjuk hati sebagai isyarat inner beauty.
“ih PEDE bener” lanjut Roy tak mau kalah.
“bukan PEDE tapi fakta”. lanjutku
“udah-udah nggak usah diterusin, Ra ayo ikut gue!!”ajak  Arka tiba-tiba yang sedari tadi diam saja entah apa yang dipikirkan.
“lho kemana, inikan gi asyik ngobrol ma temen-temen?”tanyaku.
“gue mo pulang loe mau bareng nggak???”jawab Arka sambil berdiri siap meninggalkan tempat.
“HAH, Pulang??? kenapa musti sekarang?? yaudah ayuk”jawabku kemudian sambil berjalan mengikuti Arka lumayan itung-itung hemat biaya angkot.
kami berjalan menyusuri lorong kampus untuk menuju ke tempat parker motor Arka. karena kebetulan tadi pagi dia memarkirkan motor agak jauh di ujung jadi perjalanan harus melalui beberapa fakultas terlebih dahulu sebelum sampai ke tempat parkiran aku sayup mendengar suara memanggil-manggil.
“Arka... Arka... Arka...”kami berdua menoleh kearah suara bersamaan dan terlihat olehku dia berjalan menyusul kita berdua.
“tuch pujaan hati loe” kataku sambil menyikut Arka, selang beberapa detik kemudian Ardina sudah sampai didepan kita.
“beibh, anterin aku ke took buku donk please”kata Ardina kemudian sambil bergelayut manja di lengan Arka yang sebelumnya ada disampingku yang kini digeser oleh Ardina.
“yach gimana dong sayang, aku udah terlanjur janji mau anterin Naura pulang dulu” kata Arka sambil menoleh ke arahku.
“tapi aku kan pacar kamu beibh”kata Ardina manja.
“yach tapi... “
belum sempat Arka melanjutkan perkataannya aku pun berkata pada mereka.
“yaudahlah Ka, gue bisa naik bus kok. udah anterin tuch cewek loe”kataku sambil kemudian meninggalkan mereka berdua.
setelah melangkah tak jauh dari mereka tiba-tiba ada mobil berhenti pas disampingku. karena aku tak bereaksi dan tak bisa melihat sosok yang ada didalam mobil aku menghentikan langkahku dan beberapa detik kemudian kaca depan mobil diturunkan dan sosok tak asing lagi menyapaku.
“hai Ra... gue anterin yuk”kata suara orang dalam mobil yang tak lain adalah Nathan.
“nggak ah, gue naik bus saja” jawabku karena merasa masih sungkan
“ayolah Ra, kita kan da berteman”kata Nathan tetep memaksa
“yaudah”kataku sambil masuk kedalam mobilnya dan beberapa saat kemudian kami pergi meninggalkan kampus dengan tanpa tahu ada sepasang mata terus mengawasi.
di dalam mobil tak ada satu pun dari kita yang berniat untuk memulai obrolan suasana hening dan canggung menyelimuti kami berdua. sampai pada akhirnya Nathan mulai kesal dengan suasana seperti ini dan dia memulai kembali percakapan.
“Ra, ini mau langsung dianter pulang atau gimana?” Tanya Nathan padaku sambil tetap focus menyetir.
“kalau ndak pulang trus mau kemana?”jawabku.
“ya, siapa tau pengen makan siang dulu” seru Nathan
“tapi gue dah kenyang nich lagian juga tadi udah makan “ kataku pada Nathan
“ yaudah kalau gitu ikut gue bentar yach ke toko buku”kataNathan mengajakku
“toko buku..!! bolehlah lagian gue juga pengen beli beberapa buku kebetulan” kataku penuh antusias.
beberapa waktu kemudian kita sudah sampai di toko buku yang di maksud Nathan. sampai di pelataran Parkir sekilas aku melihat motor Arka terparkir dengan rapi. “ya Allah toko buku itu banyak sekali tapi kok ya sama-sama disini”batinku dalam hati. kemudian kami berdua keluar dari mobil dan berjalan mencari buku yang ingin kita beli masing-masing. didalam toko terlihat olehku kemesraan antara Arka dengan Ardina terbersit sedikit rasa kesal di hatiku.tapi ya sudahlah toh dia Cuma sahabatku.
tanpa mengindahkan lagi kemesraan mereka berdua aku kembali mencari-cari buku yang ku inginkan. karena sebelumnya aku dan Nathan berpisah untuk mencari tujuan masing-masing. aku terus saja menyibukkan diri untuk mencari novel yang bisa ku baca di toko ini sambil menunggu Nathan menghampiriku. karena sangat asyik membaca novel aku pun tak menyadari kalau ada yang sedang memperhatikanku dan dia mulai menghampiriku.
“kok sendirian” Kata Arka yang mengagetkanku dan kemudian dia duduk disampingku.
“nggak kok, gue kesini bareng Nathan dia lagi nyari buku, trus mana Nyonya-mu ntar marah lagi” kataku padanya
“dia lagi di toilet, loe udah serius ya sama Nathan?” Tanya Arka kemudian.
“seriuslah, gue serius mau berteman sama dia” jawabku sambil tetap berusaha focus pada novel yang ku baca walaupun pada akhirnya tetap saja aku tak bisa berkonsentrasi.
tak jauh dari tempat kami aku mulai melihat Nathan mulai menghampiriku dan kemudian dia kembali bercakap-cakap dengan Arka dan detik selanjutnya kulihat Ardina menghampiri kami. dia melihatku dengan sinis.
“sayang udahan yuk keluar” kata Ardina pada Arka sambil melirik ke arahku
“yaudah kalau gitu, kita duluan ya Ka” kata Nathan kemudian
“oke” jawab Arka singkat.
dan saat itu juga kami berdua beranjak meninggalkan toko buku, bahkan mungkin juga diikuti oleh Arka dan juga Ardina dibelakang kita. tapi entahah karena saat itu aku sudah tidak berminat untuk menoleh kebelakang. Nathan melajukan mobilnya menuju rumahku. setelah sampai dirumah aku mencoba basa-basi mengajak Nathan masuk tapi dia menolak karena melihat kondisi fisikku yang terlihat lelah dan mengantuk. sesampainya dikamar aku merebahkan diri dikasur kesayangaku mencoba memejamkan mataku yang memang sudah sangat lelah dan mengantuk
***
to be continued

Selasa, 23 April 2013

Be The Last For Me Part 2


Yuhu....................
akhinyo Part 2 selesai juga walapun sampe detik ini bingung banget mau dibawa kemana nich cerita...
tp yach mau gimana lagi,,,,,,,
cuma ini yang bisa penulis persembahkan.
dari pada makin nggak karuan chuz,,, silahkan dibaca,
HAPpy ReaDiNg AlL

                                                                  
Be The Last For Me Part 2
Pagi yang sangat cerah untuk memulai aktifitas setelah subuh sebelumnya hujan mulai mengguyur lingkungan sekitarku. Setelah membantu Mama menyiapkan menu sarapan pagi. Aku mulai bersiap untuk pergi ke kampus, walaupun hari ini tidak ada jadwal kuliah pagi. Aku berangkat lebih awal karena ingin mencari beberapa literatur untuk tugas mata kuliah Sosiologi di Perpustakaan kampus. Tiba-tiba hp-ku berbunyi tanda panggilan masuk tak lain dan tak bukan adalah Arka
“Hallo, Ada pa Ka?”. Tanyaku pada suara di seberang.
“Assalamu’alaikum kali, udah buruan keluar gue da jemput di tempat biasa” jawab Arka
“wait,,wait,,, bukannya belum ada kesepakatan ya kalo hari ini gue dijemput?” tanyaku pada arka karena memang tidak ada kesepakatan.
“udah dech, nggak usah bawel buruan, matahari udah terik nich panas” jawab Arka sehingga memaksa langkahku untuk segera pergi menginggalkan rumah.
“Ma, Naura pergi dulu yach Assalamu’alaikum” teriak ku pada Mama sambil tak lupa untuk cium tangan.
Aku bergegas menuju tempat biasa Arka menjemputku, karena tak ingin Arka lebih lama menunggu. Membuat Arka menunggu dapat menimbulkan efek domino, selain ngomel-ngomel sepanjang perjalanan juga dapet bonus harus nraktir makan siang, bener-bener paket lengkap dech. Tak lama kemudian aku sudah menemukan sosok Arka yang sudah siap di atas motor Sportinya.
“Tumben agak cepet”. Tanya Arka setelah aku berada lebih dekat dengannya.
“iyalah, orang dari tadi gue dah siap-siapmau berangkat”. Jawabku sambil memasang helm dan bersiap untuk naik ke motornya.
“bukannya hari ini loe nggak ada kuliah pagi ya?”. Tanya Arka penasaran.
“memang sih, tapi gue rencana mau ke perpus cari literature buat tugas”. Jawabku lagi.
“trus kenapa nggak bilang kalo ma berangkat pagi?”. Tanya Arka lagi.
“aduh Ka, please dech udah jalan aja nggak usah dibahas”. Jawabku untuk mengakhiri percakapan ini.
Tanpa banyak bicara Arka segera melajukan motor kesayangannya itu menuju ke kampus. Ditengah perjalanan aku mendengar Arka memanggilku. Namun tak ku hiraukan karena sedang asik dengan pikiranku sendiri tentang Arka, tentang kelanjutan studi-ku tentang kehidupanku nantinya. Perlahan Arka mengurangi kecepatan laju motornya dan mulai menepi di pinggir jalan.

***
“hei Ra, loe kenapa?”. Tanya Arka sambil menyentuh bahuku dan membuatku tersadar dari lamunan.
“eh, Ka ada apa?”. Jawabku setengah terkaget.
“Tuch kan loe aja nggak tau apa yang gue bilang tadi. Loe kenapa?”. Tanya Arka terlihat mencemaskanku.
“oh, nggak apa-apa kok Ka”. Jawabku ragu.
“loe yakin kalo loe nggak kenapa-kenapa, kita kan sahabat Ra jadi loe bisa cerita apa aja ke Gue”. Jawab Arka masih terlihat ragu akan jawabanku.
“iya gue nggak kenapa-kenapa kok udah yuk jalan lagi”. Jawabku dan Arka pun mulai melajukan kembali motornya.
“Ra, entah kenapa gue ngerasa kalo kamu sedikit berubah”. Tanya Arka kembali sambil tetap melajukan motornya.
“ah itu perasaan loe aja Ka, gue sich biasa aja”. Jawabku pada Arka.
“semoga saja ya Ra, tapi gue ngerasa loe jauh lebih diem sekarang walaupun terkadang masih suka bikin heboh, kesannya gimana gitu, semisal gue ada salah ma loe tanpa gue tau maafin gue ya”. Kata Arka panjang lebar mengingatkanku akan sikapku akhir-akhir ini.
“iya, loe tenang aja Ka, gue baik-baik aja kok pecaya dech, loe sahabat gue dan kita selamanya akan tetap jadi sahabat”. Jawabku meyakinkan Arka.
“beneran lho yach”. Kata Arka dengan keraguan yang masih menggantung.
“iyach”. Jawabku dengan menyunggingkan senyum berusaha menghapus keraguan dalam benak Arka.
“kamu itu dekat denganku tapi aku ngrasa kamu jauh sekali Ra. Semoga saja kamu bener ini hanya perasaanku saja”. Batin Arka.
“kamu memang pengertian banget Ka, sulit rasanya berbohong didepanmu” batinku.
Hening, kami menikmati sisa perjalanan sampai tiba di kampus. Tak satupun dari kami berniat untuk memulai kembali perbincangan sampai tujuan. Arka mengantarkan aku sampai di depan perpustakaan kampus. Sesampainya di perpus aku segera turun dari motor Arka.
“Ka, thanks ya da nganter gue, habis ini loe mau kemana”. Tanyaku pada Arka.
“rencananya sich mau ikut loe masuk ke perpus itupun kalo elo nggak keberatan” jawab Arka.
“ya nggak sich, asal loe nggak gangguin gue aja, tapi apa loe gak sebaiknya PDKT ma Dina aja ya?”. Tanyaku pada Arka sekaligus mengingatkan akan misinya mencari cinta sejati dan pelabuhan terakhirnya.
“nggak ah, gue masih mau nemenin loe yang kelihatannya galau gitu”. Jawabnya dengan menarik sedikit sudut bibirnya.
“oh makasih banget, galau ... nggak dech kayaknya” jawabku seraya menarik tangannya untuk segera menuju pintu perpus.
Karena saking asyiknya kita ngobrol tanpa sengaja aku menabrak seseorang dan membuat buku-buku yang dipegang orang tersebut jatuh berserakan.
“eh, maaf ya mas saya tadi jalannya tidak melihat”. Kataku berusaha minta maaf pada orang tersebut sambil membantu mengumpulkan bukunya yang berserakan tak lupa pula Arka ikut membantu.
“eh, iya nggak pa-pa kok mbak saya juga salah”. Jawab orang itu sambil menatap gue.
“lho, Naura kan?”. Kata orang itu menyebutkan namaku. Karena orang itu tau namaku aku bersaha mengingat-ingat siapa dia dan...
“Nathan”. Jawabku setelah mengetahui identitas orang yang aku tabrak tadi
“iya, wah sepertinya dunia ini sempit ya, senang bertemu denganmu lagi”. Jawab Nathan sambil menjabat tanganku dan ku balas jabatan tangannya.
“iya senang juga bertemu denganmu”. Kataku sejenak melupakan kehadiran Arka sampai kemudian Arka menyenggolku.
“oiya Than, kenalin ini temen gue Arka”kataku pada Nathan
“Arka, ini Nathan” kataku pada Arka memperkenalkan. Karena teringat akan tujuanku datang ke perpus akupun segera berpamitan pada Nathan.
“Than gue masuk dulu yach”. Kataku berpamitan
“eh iya, boleh tau nomer Hp-nya nggak?”. Tanya Nathan sebelum aku pergi.
“oh boleh kok ni, 0813xxxxxxxx”. Jawabku memberitahukan no ponsel ku.
“ok thanks ya Ra,nanti disambung lagi”. Jawab Nathan.
“oke!”jawabku sambil berlalu mulai memasuki perpustakaan.
***
“oh, jadi itu yang membuat loe terlihat galau akhir-akhir ini. Perasaan gue nggak pernah liat tuch cowok dech”. Kata Arka yang sedari tadi diam akhirnya bicara.
“yeh, sok tau loe.siapa juga yang galau”. Jawabku menggoda Arka.
“siapa sich tuch anak?”. Tanya Arka dengan rasa penasaran yang semakin menggunung.
“kan udah gue kenalin tadi, dia itu Nathan”. Jawabku pada Arka tetap dengan senyum tersungging.
“Ayolah Ra, gu serius nich masak yach sama sahabat sendiri nggak cerita”. Kata Arka yang mulai kehilangan kesabaran.
“iya bener dia itu Nathan, dan sayangnya info yang gue punya Cuma itu karena gue juga baru kenal kemarin itu pun dalam bus waktu pulang”. Jawabku berusaha menjelaskan dari pada terus diburu sama tuch anak.
“what baru kenal kemarin, udah dikasih nomer Hp?”. Tanya Arka tak percaya.
“iya, ada yang salah?”. Tanyaku berusaha terlihat acuh.
“Tau gitu kemarin gue anter loe pulang”gumam Arka.
“Apa?”. Tanyaku karena tak mendengar perkataan Arka.
“Nggak. Buruan yuk cari literaturnya gue bantu”. Jawab Arka berusaha mengalihkan topic pembicaraan.
Kemudian kami berdua sibuk mencari-cari buku yang kubutuhkan untuk melengkapi materi. Arka sahabat yang siaga, juga tak segan-segan membantuku mencarikan buku bahkan sesekali membantu mengerjakan tugasku jika aku sudah tidak mampu lagi untuk mengerjakannya. Mengingat banyaknya kegiatan mahasiswa yang ku ikuti.
***
Selesai menemukan buku-buku yang kubutuhkan dan memasukkan kedalam tas ku. Aku dan Arka memutuskan untuk menuju taman kampus tempat nongkrong kita berdua. Disana kita biasa berbincang-bincang mulai dari membahas dosen sampai dengan membahas urusan pribadi kita, termasuk pembahasan tentang GeBeTan baru Arka.
“Eh, ngomong-ngomong gimana soal progress hubungan loe ma Ardina itu?”. Tanyaku memulai percakapan ini.
“oh, itu biasa aja sich”. Jawab Arka asal.
“lho bukannya kemarin loe udah nembak dia ya?”. Tanyaku lagi.
“iya sich, tapi Ra gue jadi ragu dech”. Jawab Arka.
“lho kok??? Bukannya kemarin-kemarin loe semangat banget yach”. Tanyaku mulai penasaran.
“iya juga sich, gue juga nggak tau kenapa bisa begini”. Jawab Arka.
“alah, palingan juga alibi karena loe udah ditolak”. Jawabku terus saja mengejar jawaban Arka.
“gile bener, gue udah diterima kali ma Ardina. Lagian nggak ada dalam kamus gue ditolak ma cewek secara ganteng gue udah tingkat nasional”. Jawab Arka dengan tingkat ke-PD-an 100%.
“ye PD gile,What udah di terima wah ayo traktir”. Kataku sambil tersenyum dan mencoa menarik Arka menuju kantin.
Namun tiba-tiba Ponselku berbunyi tanda panggilan masuk dari nomer tak dikenal. Dengan agak ragu Akhirnya aku angkat telponnya dan menyuruh Arka untuk diam sebentar.
“hallo?”. Kataku
“Assalamu’alaikum, bener ini nomernya Naura”. Jawab orang diseberang
“wa’alaikumussalam, iya ini dengan Naura , maaf ini siapa?” tanyaku pada suara diseberang.
“Ra, ini Nathan Cuma mau Mastiin aja bener gak ini nomer loe, ini nomer gue save ya”jawab Nathan.
“oh, Nathan iya”. Jawabku. Mendengar nama Nathan ku sebut sekilas kulirik Arka diam saja dengan raut muka tak dapat dibaca.
“yaudah gitu aja, Assalam’alaiku” Kata Nathan mengakhiri.
“wa’alaikumussalam”. Jawabku sambil menutup telpon.
Melihat wajah Arka yang penuh Tanya, sebelum dia memberondongku dengan pertanyaannya maka aku berniat mengatakannya terlebih dahulu.
“Nathan”. Kataku menjawab tentang identitas peneleponku tadi dengan singkat dan lugas.
***
to be continued

Senin, 22 April 2013

Be The Last For Me

Be The Last For Me Part 1

Blog baru, postingan baru... segalanya serba baru dech, ..
mencoba menjadi penulis baru, sangat terlihat amatiran sich, tapi yach beginilah diriku,,
dengan segala keterbatasanku.
mulai mencoba diri menjajaki dunia tulis menulis, karena dengan membuat cerpen kita bisa dengan bebas membuat nasib dari cerita. layaknya Tuhan menulis takdir kita...
dari pada kebanyakan omong jatuhnya malah makin ngelantur..
ok.....
HappY Reading all............

"Gimana menurut loh?" tanya Arka padaku.
"maksudnya?" kutanya balik karena tak mengerti apa yang dimaksud.
"itu si Dina, yang pernah gue critain dulu"jawab Arka.
"YE,, mana Gue tau, kenal aja enggak". Jawabku sekenanya.
"ya.... paling nggak kasih koment kek, loe kan udah pernah liat fotonya ". kata Arka setengah memohon.
"emank koment gue penting gitu?? Nggak juga kali, urusan cinta itu soal ini bukan ini". kataku sambil menunjuk dada dan berganti ke otak.
"iya juga sich Ra, tapi sebagai sahabat kamu juga berhak memberikan penilaian kok, kan demi kebaikan" jawab Arka.

oiya namaku Naura Aulia, aku dan Arka sudah bersahabat sejak kami duduk dibangku SMA sampai saat ini. Arka adalah seorang sahabat yang sangat baik, pengertian dan bisa diandalkan dalam segala kondisi. So pasti aku menjadi seorang yang sangat bergantung kepadanya. Saling mengisi antara satu dan yang lain itu biasa kami lakukan. Mulai dari hal-ha yang bersifat umum sampai masalah pribadi tidak kami ungkapkan. Banyak diantara teman-teman baik teman SMA ataupun kampus mengira kami pacaran. tapi peduli amat apa kata mereka toch pada kenyataannya kita berdua hanya berteman. walaupun kalo boleh jujur sich sebenarnya aku juga ada rasa sama dia. Nah loh...

kembali ke topik awal.

"oke, kalo memang begitu. Apakah kamu serius suka sama dia?" Tanyaku pada Arka.
"Ya Ampun Ra,jelaslah Gue suka sama dia". jawab Arka berusaha meyakinkanku walaupun aku sendiri tidak yakin mengingat track record nya sebagai Playboy.
"kalau memang kamu ngerasa serius and suka ma dia, ya udah buruan katakan utarakan perasaanmu padanya,Ntar keburu disamber orang baru tau rasa dan inget jangan lagi berusaha cari yang lain" kataku sambil mengancam takut kalau ke "Play Boy "an nya kumat.
"Thanks ya Ra, loe emank the best dech janji dech kalo kali ini yang terakhir".kata Arka sambil menepuk bahuku.
"ye dulu juga waktu sama Rinda, Mely, salsa ngomongnya juga gitu tapi faktanya" jawabku agak sebel.
"hehehe,iya habis gimana lagi kalo nggak cocok" jawab Arka sambil tersenyum.
"iya dech, udah ah samperin tuch calon cewek loe, ini Gue capek mau pulang". kataku pada Arka karena mood-ku tiba-tiba menjadi buruk.
"eh, loe mo pulang gue anter ya?" tanya Arka menawarkan diri mengantar, karena tiap hari dia memang selalu mengantarku.
"nggak ah, gue naik bus aja lagian gue harus mulai membiasakan diri tanpa loe lagi ". jawabku sambil berlalu meninggalkan Arka.
 ***
Sepanjang perjalanan pulang pikiranku berkecamuk. memikirkan Arka yang diam-diam aku sukai akan memulai hubungan baru dengan gadis lain, tersenyum untuk gadis lain. Memang selalu saja seperti ini ketika dia mulai menemukan cewek untuk dijadikan pacar, dia mulai sedikit melupakanku walaupun masih sering bersama ku. tapi semua terasa beda ketika dia sudah memiliki pacar. bagaimanapun juga aku memilih untuk menghindar dari Arka, sebagai sesama perempuan aku cukup tau diri untuk tidak menjadi pengganggu dalam hubungan seseorang walaupun dia adalah sahabatku tapi tetap saja aku seorang perempuan. "ah Arka,andai engkau tahu". Batinku.
"mbak, mau turun dimana?" tanya seorang pemuda di sebelahku yang juga telah membuyarkan lamunanku.
"eh,di-di jalan diponegoro mas". kataku  tergagap karena tersadar dari lamunan.
"oh bentar lagi donk mbak, kayaknya mbak tadi naik didepan kampus itu ya?" tanya mas yang disebelahku.
"iya mas, gue memang kuliah disitu".jawabku mencoba ramah dengan orang tak dikenal.
"wah, sama donk gue juga kuliah disana oia kenalkan nama gue Joenathan biasa dipanggil Nathan". katanya sambil mengulurka tangan.
"Naura". jawabku sambil membalas uluran tangan Nathan.
"oia gue turun dulu yach uda nyampe nich" kataku pada Nathan sambil berlalu meninggalkannya. Nathan cowok yang cukup ganteng sich tapi...
sesampainya di rumah aku segera menuju ke kamar favoritku dengan nuansa biru pada cat dindingnya yang terlihat sangat segar dipandang mata. Masuk kamar aku langsung merebahkan diri untuk istirahat sejenak sambil menanti adzan maghrib berkumandang. Di zaman modern seperti ini aku terlahir dari keluarga yang taat beribadah mencintai Tuhannya dan menjauhi larangannya merupakan aturan yang mutlak untuk ditaati. termasuk pacaran, sebagaimana banyak dalil yang menyebutkan "dan janganlah kamu mendekati zina" oleh karena itu papa senantiasa mengingatkanku untuk tidak pacaran dulu karena pacaran itu merupakan pintu masuk dari perbuatan zina dilakukan. teringat percakapan antara aku dan papa beberapa waktu lalu.
"Pa, kalo misalnya ini ya Naura pacaran gimana?" Tanyaku pada papa iseng.
"oh nggak apa-pa kok nduk, emank yang mana pacarnya bawa kesini aja" jawab Papaku enteng.
"ya nggak ada donk Pa, kan ini cuma misalnya aja". kataku pada Papa.
"oh kirain uda ada,kalo uda ada bawa pulang yach Papa pengen kenal lagian Papa ndak mau kalo anaknya dibawa kemana-mana sama yang bukan muhrim apa kata orang-orang nanti." jelas Papa padaku.
"iya, pasti Pa nanti kalo Naura udah punya pacar pasti Naura kenalin ke Papa, lagian kalo Naura pacaran masak ya ndak boleh jalan-jalan ma pacarnya sendiri?" tanyaku pada Papa.
"nggak boleh" jawab Papa Tegas.
"trus kalo Naura mau dikenalin sama orangtuanya gimana?" tanyaku kembali.
"nggak boleh"jawab Papa tegas.
"nah, kok?? mana bisa gitu???" tanyaku mulai tidak sabar.
"ya bisa donk Nak, bukankah itu ajaran Islam, secara tidak langsung itu juga memulyakan wanita menjaga kehormatan seorang wanita,kalau memang orang tuanya pingin kenal ma kamu ya seharusnya mereka yang datang kesini bukan malah kamu yang kesana,iya kalo orang tuanya suka ma kamu, kalo nggak, kamu akan jadi konsumsi publik di keluarga besarnya, bukankah itu juga dapat menjaga kehormatan dan harga diri kamu, Islam itu indah kok Nak jika saja kamu mau mendalami makna yang terkandung dalam setiap perintah maupun larangan Allah"kata Papaku mulai bercerita panjang lebar.
"iya juga sich Pa, itu terdengar cukup logis. oke Naura janji kalo Naura udah punya pacar nanti pasti Naura kenalin ke Papa tapi kayaknya selama kuliah ini Naura tidak mau pacaran dulu kok Pa," kataku pada Papa. bagaimanapun juga Papa adalah sosok panutan dalam hidupku.

tak terasa adzan Maghrib sudah berkumandang saatnya untuk melaksanakan shalat berjamaah di Musholla kecil yang terletak disamping rumah. setelah selesai sholat aku langsung bergegas menuju kamar untuk melanjutkan rutinitas. melihat layar ponsel menyala aku segera mengambilnya dan pada layar tertera satu pesan dari Arka.
"beibh,gmn da nympek Humz?" tanya arka pada Sms yang dikirim.
"udah dari kmrin kali. ada apa?" balasku karena tidak biasanya dia sms waktu maghrib.
"nggak kok,cuma ksh info aja gue uda nembak Ardina :-D"balas Arka
"oh soal itu, uda dlu yach mow makan nech soal kelanjutannya di bhas besog key" jawabku
"okey cantik, cuma mau ngasih info aja gimanapun loe kn my best friend" balas Arka
tanpa kusadari Air mata ini mulai menetes, ketakutan akan kehilangan Arka. pelindung dan motivator ku. semoga saja tidak.bukankah rejeki dan jodoh tidak pernah tertukar.Mungkin saja dia ukan jodohku

to be continued